Senin, 14 Desember 2009

Usaha Tani

selama ini konsep berfikir masyarakat tani pada umumnya adalah bertani dan bercocok tanam, bisa diakui memang pada mulanya tidak ada masalah dengan konsep ini, buktinya masyarakat tani dijawa tetap eksis hingga sekarang meski sebagaian mengaku bahwa bertani bukanlah pilihan. disadari atu tidak, beberapa waktu terakhir setelah terjadi perubahan karakter bangsa Indonesia yang mendekat kearah matrealis, maka kelompok masyarakat tani sedikit tergeser, dari yang biasanya cukup menjadi belum cukup dalam pemenuhan kebutuhannya. apa yang mereka hasilkan dari bertani kurang sesuai dengan harapan mereka, kebutuhan hidup yang terus meningkat belum bisa diimbangi dengan peningkatan pendapatan yang mereka peroleh, entah karena produksinya sedikit, atau karena nilai produksinya yang sedikit.
jika yang menjadi masalah adalah jumlah produksinya maka tepat jika langkah yang diambil adalah memperbaiki cara bertaninya, misal dengan penggunaan bibit/benih unggul, pupuk yang berimbang, sistem irigasi, integrated pest management dll. dengan upaya-upaya tersebut sangat logis kiranya jika petani berharap akan peningkatan produksi, dan langkah pemerintah sudah sangat tepat untuk mengatasi masalah ini, dan buktinya peningkatan produksi telah tercapai, sebagai contoh riil padi yang ditahun 80-an hanya mampu berproduksi rata2 4 ton/ha, ditahun 2009 di sukoharjo ada petani yang mampu mengelola padinya hingga berproduksi 10 ton/ha.
jika yang menjadi masalah adalah nilai produksinya maka langkah yang ditempuh seperti didepan kurang berarti, jika tak boleh dibilang tidak berarti. karena nilai produksi = jumlah produksi x harga produk. sekilas melihat rumus didepan kita langsung bisa menyimpulkan bahwa nilai produksi dari apa yang dihasilkan petani akan sangat bergantung pada harga komoditi yang bersangkutan. nah dalam hal ini, bagaiman dengan kebijakan pemerintah yang telah ada? sudah berpihakkah pada petani?
menanggapi pertanyaan diatas, sahabati saya dari Undip bilang "sekarang bukan zamannya menyalahkan sistem, tapi yang terpenting bagaimana kita membuat perbaikan dengan kemampuan kita" ya aku sepakat.
untuk mengatasi masalah kedua ini tentunya harus ada perubahan mindset dari petani, yang semula hanya bertani, semetinya bergeser ke arah usaha tani, mengapa demikian? dalam usaha tani tentunya ada pertimbangan untung dan rugi secara materi sebagaimana usaha dagang yang lain. petani harus realistis terhadap permaslahan yang dihadapi, bagaimana dia berkorban dalam usaha taninya harus tetap mempertimbangkan keuntungan yang akan diperoleh. (istilah keuntungan usaha tani sementara ini dianggap tabu di Progdi Sosek pertanian). sebagai ilustrasi,,,,, bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar